Kamis, 08 Desember 2011

Selamat Jalan Bibikku


Selamat Jalan Bibikku
M. Zamroni

Bulan November baru menunjuk angka dua. Sinar matahari hampir menyelesaikan tugasnya menyinari kota Bagu Lombok Tengah, suasana kelabu begitu terasa di Puskesmas Menemeng, para perawat serasa enggan berbicara. Semua hening, semua menunduk tanda sedih.
Semua bermunajat kepada Allah. Ya Allah, berikanlah kasih sayangmu kepadanya. Janganlah Engkau beri sakit yang begitu berat dan lama. Sembuhkanlah segera bila Engkau masih mengizinkannya hidup atau ah. Aku tak tega mengucapkan kata perpisahan ini, Ya Allah, Engkau Maha Tahu hati manusia, bila Engkau sangat sayang padanya maka panggillah ia segera dalam dekapan kasih sayangMu.
Suaminya, hari itu begitu sibuk melihat alat pemantau, denyut nadinya ada dikisaran 15 hingga 60, suatu ukuran yang sangat lemah untuk ukuran tubuh manusia. Juga fungsi batang otak yang harus selalu memberikan instruksi kepada organ tubuhnya ada dilevel 3, level yang paling bawah dari tingkat kesadaran manusia. Suaminya, keluar dari ruang ICU, berdiskusi sejenak dengan sanak saudaranya. Berkatalah si Suami. Mari kita bersabar, bilamana Allah sangat menyayangi ummi, biarkanlah ia menyambut panggilanNya. Ihwa dan Sarhan, tak kuasa menahan keluarnya air mata, bukan tidak ridha, tapi tangisnya adalah tangisan sayang buat umminya.
Tiba-tiba, di dalam sana, suster memangil si Suami untuk bersegera membantu keberangkatan istrinya menyambut panggilan Allah. Segeralah, si Suami membacakan kalimat Laa Ilaaha Ilallah, secara berulang-ulang. Dan juga dibacakan beberapa ayat Al-Qur'an. Di luar semakin hening, semua mata tertuju pada tubuh yang terbaring dibalik jendela kaca yang sengaja dibuka oleh suster. Semua pembesuk turut berdo'a menghantar kepergian ummi ke tempat yang jauh untuk tidak kembali. Akhirnya, menjelang waktu ada di angka 02.30, Ummi yang telah lama terbaring itu pergi menjumpai Rabbnya.
Kami tidak melihat dia bergerak kesakitan, tidak ada obat lagi dan tidak ada beban lagi. Pergilah menyambut panggilan Ilahi Rabbi. begitu gumamku lirih.
Selamat menikmati dekapan kasih sayang Rabbmu. "Ya ayyatuha nafsul muthmainnah irji'ii ila rabbiki raadhiyatan mardhiyah fadkhulii fii ibadii wadkhuli jannati". Ya Allah, panggillah Ummi yang terbaring ini dengan panggilan kasih sayangMu. Sungguh ya Allah, begitu mulia hidupnya, ia terus bergerak memenuhi dunianya dengan dakwahMu, Sungguh ia terus bekerja demi kebaikan ummatMu. Selamat jalan ummi, do'a kami semua menyertaimu, jangan bersedih. kami akan melanjutkan dakwahmu, kami-kami ini yang akan menggantikan posisimu, kami-kami ini akan mewarisi kepribadianmu, pribadi yang mulia dalam naungan dakwah.
Terima kasih kepada seluruh ummat yang turut membantu meringankan bebannya. Sungguh, amal saudara semua semua tidak akan tergantikan, semoga Allah membantu saudara-saudara dengan caraNya yang lebih bijaksana.  (Novel ini aku buat untuk BIBIK TIk tercinta )

Jasa Ibu Tak Terhingga


Jasa Ibu Tak Terhingga
M. Zamroni

Dinia Ningsih, bukan siapa-siapa. Tapi ia menjadi seseorang yang akan disebut namanya di Surga kelak oleh Roni, anak tercintanya. Dan ia akan menjadi satu-satunya yang direkomendasikan Roni, seandainya Allah memperkenankannya menyebut satu nama yang akan diajaknya tinggal di Surga, meski Dinia Ningsih sendiri nampaknya takkan membutuhkan bantuan anaknya, karena boleh jadi kunci surga kini telah digenggamnya.
Bagaimana tidak, selama dua hari Dinia Ningsih menggendong anaknya yang berusia belasan tahun mengelilingi Kota Mataram Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk mencari bantuan, sumbangan dan belas kasihan dari warga kota, mengumpulkan keping kebaikan dan mengais kedermawanan orang-orang yang dijumpainya, sekadar mendapatkan sejumlah uang untuk biaya operasi anaknya yang menderita cacat fisik dan psikis sejak lahir.
Tubuh Roni, anak tercintanya yang seberat lebih dari 35 kg tak membuat lelah kaki Dinia Ningsih, juga tak menghentikan langkahnya untuk terus menyusuri kota. Tangannya terlihat gemetar setiap menerima sumbangan dari orang-orang yang ditemuinya di jalan, sambil sesekali membetulkan posisi gendongan anaknya. Sementara Roni yang cacat, takkan pernah mengerti kenapa ibunya membawanya pergi berjalan kaki menempuh ribuan kilometer, menantang sengatan terik matahari, sekaligus ratusan kali menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang kering sekering air matanya yang tak lagi sanggup menetes.
Ribuan kilo sudah disusuri, jutaan orang sudah dijumpai, tak terbilang kalimat pinta yang terucap seraya menahan malu. Sungguh, sebuah perjuangan yang takkan pernah bisa dilakukan oleh siapa pun di muka bumi ini kecuali seorang makhluk Tuhan bernama; Ibu. Ia tak sekadar menampuk beban seberat 35 kg, tak henti mengukur jalan sepanjang kota hingga batas tak bertepi, tetapi ia juga harus menyingkirkan rasa malunya dicap sebagai peminta-minta, sebuah predikat yang takkan pernah mau disandang siapapun. Tetapi semua dilakukannya demi cintanya kepada si buah hati, untuk melihat kesembuhan anak tercinta, tak peduli seberapa besar yang didapat.
Tidak, ia tak pernah berharap apa pun jika kelak anaknya sembuh. Ia tak pernah meminta anaknya membayar setiap tetes peluhnya yang berjatuhan di setiap jengkal tanah dan aspal yang dilaluinya, semua letih yang menderanya sepanjang jalan menyusuri kota. Ibu takkan memaksa anaknya mengobati luka di kakinya, tak mungkin juga si anak mengganti dengan seberapa pun uang yang ditawarkan untuk setiap hembusan nafasnya yang tak henti tersengal.
Dinia Ningsih, adalah contoh ibu yang boleh jadi semua malaikat di langit akan mengagungkan namanya, yang menjadi alasan tak terbantahkan ketika Rasulullah menyebut "ibu" sebagai orang yang menjadi urutan pertama hingga ketiga untuk dilayani, dihormati, dan tempat berbakti setiap anak. Dinia Ningsih, barangkali telah menggenggam satu kunci surga lantaran cinta dan pengorbanannya demi Roni, anak tercintanya. Bahkan mungkin senyum Allah dan para penghuni langit senantiasa mengiringi setiap hasta yang mampu dicapai ibu yang mengagumkan itu.
Sungguh, cintanya takkan pernah terbalas oleh siapapun, dengan apapun, dan kapanpun. Siapakah yang lebih memiliki cinta semacam itu selain ibu? Wallaahu 'a'lam