بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسَةٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَحَجِّ الْبَيْتِ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Rabu, 29 Agustus 2018
Sabtu, 16 Agustus 2014
Islam Agamaku
AGAMA PEMBAWA KESELAMATAN
Oleh: Muhammad Zamroni, M.H.I
Suatu hal yang
ditakuti dan dikhawatirkan oleh orang-orang soleh terdahulu kepada anak-anaknya
adalah
mati dalam keaadaan diluar Islam, karena resiko kematian diluar Islam
memberikan dampak yang berat dihari pembalasan kelak yaitu pada hari kiamat. Karena
seorang yang mati diluar Islam akan kekal selamanya dineraka dan mendapat
laknak dari Allah, malaekat dan semua manusia. sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ
أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
(161) خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ
يُنْظَرُونَ (162
Artinta: “Sesungguhnya
orang-orang kafir itu mati dalam keadaan kafir dan mereka itu mendapat la'nat
Allah, para Malaikat dan seluruh manusia. Mereka kekal di dalam la'nat itu;
tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguhan”.
Seorang muslim
yang masih ada imannya walaupun sedikit, masih ada harapan untuk masuk surga
walaupun dia bergelimangan dengan noda dan dosa, akan tetapi kalau Iman dan
Islam telah hilang dalam dadanya maka tidak ada harapan untuk selamat diakherat
kelak, hal inilah yang diibaratkan dalam Al-Qur’an seperti onta yang tidak bisa
masuk pada lubang jarum yang kecil sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ
الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ
Artinya: “Mereka
tidak akan bisa masuk surga sehingga bisa masuk onta pada lubang jarum”.
Oleh karenanya para nabi-nabi terdahulu
senantiasa memesan kepada keturunannya agar selalu dalam beragama Islam
bagaimanapun kondisi dan situasi yang terjadi. Ketika Nabi Ibrihim belum beranjak umur balig dan belum
diangkat sebagai Nabi, Allah
perlihatkan kepada beliau tanda-tanda keberadaan Allah sang Pencipta jagat raya
ini lewat perubahan-perubahan yang terjadi dalam alam ini, mulai dari terbitnya
bintang pada mlam hari kemudian tenggelam dan berganti bulan kemudian tenggelam
dan berganti siang seiring dengan terbitnya matahari dan manakala datang malam
mataharipun tenggelam, semua
Allah perlihatkan kepada beliau sebagai bukti adanya sang Pencipta Alam ini
yaitu Allah Swt. lalu Allah berfirman kepada beliau :
أَسْلِمْ
Artinya: “Istikomahlah
engkau dalam Islam dan tetaplah dalam ajaran tauhid”
Kemudian Nabi Ibrohimpun menjawab:
أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Aku istiqomah dalam Islam dan tetap dalam ajaran tauhid”.
Dengan ikrar dan pengakuan inilah kemuadian beliau memesan
kepada anak-anaknya seperti Isma’il, Ishak, Zimrona,Yaksyona, Madana, Midyana,
Yisybaka dan Syuhan untuk selalu tetap dalam Islam dan mati dalam keadaan
Islam. Pesan Nabi Ibrohim kepada anak-anaknya
tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai mana firman Allah dalam
Al-Qur’an yang berbunyi:
فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ
Artinya: “Janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam”.
Islam menurut bahasa artinya tunduk dan patuh. Sementara
menurut Syara’ artinya sebagaimana yang
disebutkan oleh Syaikh Nawai dalam kitab
Kasifatusaja adalah tunduk dan patuh terhadap hukum-hukum yang
ditetapkan oleh Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. yang tertuang dalam
Al-Qur’an lalu dijelaskan maksudnya oleh Rasululloh Saw. Orang yang patuh dan
tunduk terhadap ajaran Islam maka ia disebut dengan Muslim.
- Dari sisi i’tekad (keyakinan)
Dari sisi i’tekad seperti
ragu-ragu pada adanya Allah dan kerasulan Nabi Muhammad Saw. atau ragu-ragu
pada adanya hari kiamat, adanya sorga dan neraka, adanya pahala dan siksaan
atau menghalalkan sesuatu yang sepakat para ulama’ menghukumi keharamannya menghalalkan membunuh orang
lain ataupun meyakini tidak wajibnya solat lima waktu.
- dari sisi perkataan
Dari sisi
perkataan seperti mengatakan Allah
itu tidak ada, nabi Muhammad bukan nabi trakhir dll.
- dan dari sisi perbuatan.
Dari sisi
perbuatan seperti sujud terhadap berhala, matahari, bulan atau kepada makluk.
Minggu, 29 Desember 2013
MENCARI RIZKI
MENCARI
RIZKI
Oleh: M.
Zamroni, M.H.I
Di antara hal yang menyibukkan hati dan pikiran kaum muslimin
adalah mencari rizki. Dan menurut pengamatan, sebagian besar kaum muslimin
memandang bahwa berpegang dengan Islam akan mengurangi rizki mereka. Kemudian
tidak hanya sebatas itu, bahkan lebih parah dan menyedihkan bahwa ada sejumlah
orang yang masih mau menjaga sebagian kewajiban syari’at Islam tetapi mengira
bahwa jika ingin mendapatkan kemudahan di bidang materi dan kemapanan ekonomi
hendaknya menutup mata dari hukum-hukum Islam, terutama yang berkenaan dengan
hukum halal dan haram.
Mereka itu lupa atau berpura-pura lupa bahwa Allah men-syari’atkan
agamaNya hanya sebagai petunjuk bagi ummat manusia dalam perkara-perkara
kebahagiaan di akhirat saja. Padahal Allah mensyari’atkan agama ini juga untuk
menunjuki manusia dalam urusan kehidupan dan kebahagiaan mereka di dunia.
Sebagaimana Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas Radhiallaahu anhu , Rasulullah Bersabda:
كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ.
“Sesungguhnya do’a yang sering diucapkan Nabi adalah, “Wahai Tuhan Kami’
karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jagalah kami
dari siksa api Neraka”. (Shahihul Al-Bukhari).
Allah dan RasulNya tidak meninggalkan umat Islam tanpa petunjuk dalam
kegelapan dan keraguan dalam usaha mencari penghidupan. Tapi sebaliknya,
sebab-sebab mendapat rizki telah diatur dan dijelaskan. Sekiranya ummat ini mau
memahami dan menyadarinya, niscaya Allah akan memudahkan mencapai jalan-jalan
untuk mendapatkan rizki dari setiap arah, serta akan dibukakan untuknya
keberkahan dari langit dan bumi. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini kami
ingin menjelaskan tentang berbagai sebab di atas dan meluruskan pemahaman yang
salah dalam usaha mencari rizki .
Di antara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah istighfar (memohon
ampun) dan taubat kepada Allah. Sebagaimana firman Allah tentang Nuh
yang berkata kepada kaumnya:
فَقُلْتُ
اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ
عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ
لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12) [نوح/,10 12]
“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohon ampunlah
kepada Tuhanmu’, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan
mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu
dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu
sungai-sungai.” (Nuh: 10-12)
Yang dimaksud istighfar dan taubat di sini bukan hanya sekedar diucap di
lisan saja, tidak membekas di dalam hati sama sekali, bahkan tidak berpengaruh
dalam perbuatan anggota badan. Tetapi yang dimaksud dengan istighfar di sini
adalah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah
“Meminta (ampun) dengan disertai ucapan dan perbuatan dan bukan sekedar lisan
semata.”
Imam An-Nawawi menjelaskan: “Para ulama berkata. ‘Bertaubat dari setiap
dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah,
yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga:
- Hendaknya ia
harus menjauhi maksiat tersebut.
- Ia harus
menyesali perbuatan (maksiat) nya.
- Ia harus
berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi.
Jika salah satu syarat hilang, maka taubatnya tidak sah.
Jika taubatnya berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat,
yaitu ketiga syarat di atas ditambah satu, yaitu hendaknya ia membebaskan diri
(memenuhi) hak orang lain. Jika berupa harta benda maka ia harus mengembalikan,
jika berupa had (hukuman) maka ia harus memberinya kesempatan untuk
membalas atau meminta maaf kepadanya dan jika berupa qhibah (menggunjing), maka
ia harus meminta maaf.
Imam Al-Qurtubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasannya ia berkata:
“Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan
(bumi) maka beliau berkata kepadanya, Beristighfarlah kepada Allah! Yang
lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan, maka beliau berkata kepadanya,
Beristighfarlah kepada Allah! Yang lain lagi berkata kepadanya, ’Do’akanlah
(aku) kepada Allah, agar ia memberiku anak!!’ maka beliau mengatakan kepadanya,
‘Beristighfar kepada Allah! Dan yang lainnya lagi mengadu kepadanya
tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula),’Beristighfarlah
kepada Allah!.
Ma'asyirol Muslimin Jama’ah Jum’at rahimakumullah ...
Kemudian di ayat yang lain Allah yang menceritakan tentang seruan Hud
kepada kaumnya agar beristighfar.
وَيَا قَوْمِ
اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ
مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا
مُجْرِمِينَ (52) [هود/52]
“Dan (Hud berkata),’Hai kaumku, mohonlah ampun
kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia kan menurunkan hujan
yang sangat lebat atasmu dan Dia akan membawa kekuatan kepada kekuatanmu dan
juga janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (Hud: 52)
Dan pada surat Hud di ayat yang lain Allah juga berfirman:
وَأَنِ
اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا
إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا
فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ (3) [هود/3]
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan
bertaubat kepada-Nya (jika kamu mengerjakan yang demikian (niscaya Dia akan
memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai pada waktu yang
telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai
keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu
berpaling, maka sesungguhnya aku takut akan ditimpa siksa hari kiamat.” (Hud: 3).
Imam Al-Qurthubi mengatakan:”Inilah buah istighfar dan taubat. Yakni
Allah akan memberikan kenikmatan kepada kalian dengan berbagai manfaat berupa
kelapangan rizki dan kemakmuran hidup serta Allah tidak akan menyiksa kalian
sebagaimana yang dilakukanNya terhadap orang-orang yang dibinasakan sebelum
kalian.”
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud,
An-Nasa’i Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas ia berkata,
Rasulullah bersabda:
مَنْ
أَكْثَرَ اْلاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ
ضِيْقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ.
“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya
Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap
kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberikan rizki (yang halal) dari arah
yang tidak disangka-sangka.” (Al-Hadis)
Dalam hadist yang mulia ini, Nabi menggambarkan tentang tiga hasil yang
dapat dipetik oleh orang yang memperbanyak istighfar. Salah satunya yaitu,
bahwa Allah Yang Maha Esa, Yang memiliki kekuatan akan memberi rizki dari arah
yang tidak disangka-sangka dan tidak pernah diharapkan serta tidak pernah
terbersit dalam hati.
Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rizki hendaklah ia bersegera
untuk memperbanyak istighfar, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. Dan
hendaklah kita selalu waspada! dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan
lisan tanpa perbuatan. Sebab ia adalah pekerjaan para pendusta.
BAHTSUL MASA'IL
Bahtsul Masa’il
Oleh: Muhammad Zamroni, M.H.I
1.
Bolehkah
menerima sumbangan dari non muslim?
Wakaf
atau pemberian non muslim yang berkaitan dengan urusan dunia maupun urusan
akhirat hukumnya sah, karena persyaratan wakaf adalah dengan sukarela
dan dari orang yang sah melakukan amal. Karena yang diperhatikan pada wakaf ini
adalah akadnya bukan tujuannya. Oleh
karena itu, pemberian (wakaf atau hadiyah) non muslim
diperbolehkan dikalangan ulama’ Syafi’iyyah demi kemaslahatan kaum muslimin.
Akan tetapi jika pemberian itu dilakukan ketika kaum muslimin dalam kondisi
berperang dengan non muslim, maka pemberian itu disebut gonimah (harta
rampasan perang).
فتح الوهاب - (ج 1 / ص 306)
كتاب الوقف هو لغة الحبس وشرعا حبس مال
يمكن الانتفاع به مع بقاء عينه بقطع التصرف في رقبته على مصرف مباح، والاصل فيه
خبر مسلم: إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية أو علم ينتفع به أو
ولد صالح يدعو له بعد موته والصدقة الجارية محمولة عند العلماء على الوقف. (أركانه) أربعة: (موقوف وموقوف عليه وصيغة وواقف، وشرط فيه) أي في
الواقف (كونه مختارا) والتصريح به من زيادتي (أهل تبرع) فيصح من كافر ولو
لمسجد، ومن مبعض لا من مكره ومكاتب ومحجور عليه بفلس أو غيره ولو بمباشرة وليه.
روضة الطالبين وعمدة المفتين - (ج 4 /
ص 35)
لو أهدى مشرك إلى الأمير أو إلى الإمام
هدية والحرب قائمة فهي غنيمة بخلاف ما لو أهدى قبل أن يرتحلوا عن
دار الإسلام فإنه للمهدى إليه.
حاشيتا قليوبي - وعميرة - (ج 16 / ص
357)
كتاب النذر بالمعجمة هو لغة الوعد بشرط
أو التزام ما ليس بلازم أو الوعد بخير أو بخير أو شر وشرعا التزام قربة لم تتعين
أي شأنه ذلك ، فلا يرد أن نذر اللجاج مكروه وعلم من ذلك أن أركانه ثلاثة ناذر
ومنذور وصيغة ، وشرط الناذر إسلام واختيار ونفوذ تصرفه ، فيما ينذره فيصح نذر
سكران وسفيه مهمل ولو في الأموال ورقيق كضمانه ، ولا يصح نذر صبي ومجنون ومحجور
سفه وكافر ومكره مطلقا ، ولا محجور فلس في عين ماله وإنما صح وقف الكافر لعدم
اعتبار القربة في الوقف ، وشرط الصيغة لفظ يشعر بالتزام وفي معنى اللفظ إشارة
الأخرس ، والكتابة مع النية ولو من ناطق فلا يصح بالنية وتقدم شرط المنذور في الحج
.
نيل الأوطار - (ج 6 / ص 75)
وعن علي أيضا عند الشيخين إن أكيدر
دومة الجندل أهدى إلى النبي صلى الله عليه وآله وسلم ثوب حرير فأعطاه عليا فقال
شققه خمرا بين الفواطم . وعن أبي حميد الساعدي عند البخاري قال غزونا مع رسول الله
صلى الله عليه وآله وسلم تبوك وأهدى ابن العلماء للنبي صلى الله عليه وآله وسلم
بردا وكتب له ببحرهم وجاء إلى رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم صاحب ايلة كتاب
وأهدى إليه بغلة بيضاء . الحديث وفي مسلم أهدى فروة الجذامى إلى رسول الله صلى
الله عليه وآله وسلم بغلة بيضاء ركبها يوم حنين . وعن بريدة عند إبراهيم الحربي
وابن خزيمة وابن أبي عاصم ان أمير القبط أهدى إلى رسول الله صلى الله عليه وآله
وسلم جاريتين وبغلى فكان يركب البغلة بالمدينة وأخذ إحدى الجاريتين لنفسه فولدت له
إبراهيم ووهب الأخرى لحسان وفي كتاب الهدايا لأبراهيم الحربي أهدى يوحنا ابن رؤبة
إلى النبي صلى الله عليه وآله وسلم بغلته البيضاء . وعن أنس أيضا عند البخاري
وغيره أن يهودية أتت النبي صلى الله عليه وآله وسلم بشاة مسمومة فأكل منها الحديث
. والأحاديث المذكورة في الباب تدل على جواز قبول الهدية من الكافر.
صحيح البخاري - (ج 2 / ص 923)
حدثنا عبد الله بن عبد الوهاب حدثنا
خالد بن الحارث حدثنا شعبة عن هشام بن زيد عن أنس بن مالك رضي الله عنه : أن
يهودية أتت النبي صلى الله عليه و سلم بشاة مسمومة فأكل منها فجيء بها فقيل ألا
نقتلها ؟ قال ( لا ) . فما زلت أعرفها في لهوات رسول الله صلى الله عليه و سلم. [ ش أخرجه مسلم في السلام باب السم رقم 2190 .
( يهودية ) اسمها زينب واختلف في إسلامها . ( أعرفها ) أعرف أثرها . ( لهوات ) جمع
لهاة وهي ما يبدو من الفم عند التبسم وقيل هي اللحمة التي بأعلى الحنجرة من أقصى
الفم ]
صحيح البخاري - (ج 2 / ص 922)
حدثنا عبد الله بن محمد حدثنا يونس بن
محمد حدثنا شيبان عن قتادة حدثنا أنس رضي الله عنه قال : أهدي للنبي صلى الله عليه
و سلم جبة سندس وكان ينهى عن الحرير فعجب الناس منها فقال ( والذي نفس محمد بيده
لمناديل سعد بن معاذ في الجنة أحسن من هذا ). وقال سعيد عن قتادة عن أنس إن أكيدر دومة أهدى
إلى النبي صلى الله عليه و سلم.
2.
Wajibkah
zakat hasil tanah waqaf?
Wakaf
yang diserahkan kepada seseorang yang ditentukan dan orang tersebut
memperoleh hasil 1 nishab dari tanah wakaf tersebut, maka wajib baginya mengeluarkan
zakat dari hasil barang wakaf tersebut. Karena orang itu yang memiliki
hasil dari barang wakaf itu. Berbeda halnya kalau wakaf itu untuk
umum, seperti untuk orang-orang miskin,
masjid dan untuk orang-orang fakir, maka tidak ada zakat baginya. Walaupun
hasil tanah wakaf tersebut menghasilkan lebih dari 1 nishab.
أسنى
المطالب - (ج 4 / ص 438)
أجير
التعهد نخيله بثمرة نخلة بعينها بعد خروج تمرتها وقبل بدو صلاحها وشرط القطع ( فلم
يقطعها حتى بدا الصلاح ) وبلغ ما في الحائط نصابا ( لزمه عشر ثمرة النخلة ) أو نصف
عشرها قاله من زيادته ( هكذا نصوا عليه وهو مشكل إلا إن اتحد الجرين ونحوه ) مما
مر فلا إشكال ولا ريب أن هذا مرادهم ( وإن وقف على معينين حائط ) أي نخل حائط (
فأثمر خمسة أوسق ) فأكثر ( لزمتهم الزكاة ) لأنهم يملكون ربع الموقوف ملكا تاما (
لا إن وقفت عليهم أربعون شاة ) أو نصاب من سائر ما تجب الزكاة في عينه فلا تلزمهم
الزكاة لعدم الملك أو ضعفه في الموقوف ونتاج النعم الموقوفة كالثمر فيما مر أما
غير المعينين فلا تلزمهم الزكاة مطلقا كما سيأتي.
حاشيتا
قليوبي - وعميرة - (ج 5 / ص 84)
باب
زكاة النبات إلخ النبات يكون مصدرا ويكون اسما للنابت ، وهو المراد هنا وينقسم إلى
شجر ، وهو ما له ساق وإلى نجم وهو ما لا ساق له وشجره قوله : ( أي النابت ) دفع به
توهم إرادة المصدر. قوله : ( من شجر وزرع ) دفع به إرادة اسم المصدر
وشمل كلامه النابت في الأرض الخراجية وهي التي فتحت عنوة ، ثم تعوضها الإمام من
الغانمين ووقفها على المسلمين ، وضرب لها خراجا معلوما كأرض مصر أو فتحت صلحا بشرط
كونها لنا ، وأسكنها الكفار بخراج وهو أجرة لا تسقط بإسلامهم ، وكل ما جرت العادة
بأخذ خراجه فهو جائز سواء علم صحة أخذه أو لا ، إذ الظاهر أنه بحق ، كما أن الظاهر
من وضع الأيدي جواز البيع والرهن وغيرهما ، ولو أخذ الإمام الخراج بدلا عن العشر
كان كأخذ القيمة في الزكاة فلا يجزئ إلا إن كان باجتهاد منه فيسقط به الفرض حينئذ
، وإن نقص عن قدر الواجب نعم لا زكاة في الموقوف على المساجد والفقراء والجهات
العامة ، ولا في النخيل المباحة ونحو ذلك لعدم صلاحية الملك بخلاف الوقف على معين
.
مغني
المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج - (ج 5 /
ص 107)
تنبيه
: ضم في الحاوي إلى الإسلام والحرية شرطين آخرين : أحدهما : كونه لمعين فلا
زكاة في الموقوف على جهة عامة ، وتجب في الموقوف على معين .
الثاني
: كونه متيقن الوجود فلا زكاة في مال الحمل الموقوف له بإرث أو وصية على الأصح ،
إذ لا ثقة بحياته ، فلو انفصل الجنين ميتا فيتجه كما قال الإسنوي عدم الوجوب على
الورثة لضعف ملكهم ، ويمكن كما قال الولي العراقي الاحتراز عن هذا الشرط بقوله :
وتجب في مال الصبي .
نهاية
المحتاج إلى شرح المنهاج - (ج 9 / ص 200)
وشرط
وجوبها أيضا أن يكون المالك معينا فلا زكاة في الموقوف على جهة عامة وتجب في
الموقوف على معين وأن يكون متيقن الوجود ، فلا زكاة
في مال الحمل الموقوف له بإرث أو وصية لعدم الثقة بحياته.
نهاية
المحتاج إلى شرح المنهاج - (ج 9 / ص 202)
( قوله : فلا زكاة في الموقوف على جهة عامة ) ظاهره وإن
كانوا محصورين عند حولان الحول ويوجه بأن تعينهم عارض ويحتمل خلافه لملكهم له .[
فرع ] استحق نقدا قدر نصاب مثلا في وقف معلوم وظيفة باشرها ومضى حول من حين
استحقاقه من غير قبض فهل ذلك من قبيل الدين على جهة الوقف وله حكم الديون حتى
تلزمه الزكاة ولا يلزمه الإخراج إلا أن قبضه أولا بل هو شريك في أعيان ريع الوقف
بقدر ما شرط له الواقف ، فإن كانت الأعيان زكوية لزمته الزكاة وإلا فلا ؟ فيه نظر
ا هـ سم على بهجة ، واعتمد مر الأول .( قوله : وتجب في الموقوف على معين ) أي
وإن لم يخص كل واحد من المعينين نصاب للشركة ، وصورته أنه يقف بستانا ويحصل من
ثمرته ما يجب فيه الزكاة .
3.
Bolehkah
lomba puyuh?
Hukum
disyaratkan ‘iwad (hadiah) dalam perlombaan menjadikan hukum perlombaan
di tafsil, yaitu boleh ketika sarat ‘iwad itu bukan dari peserta
lomba atau ‘iwad dari salah satu peserta lomba dengan berkata kepada
peserta lomba lainnya “jika kalian menang, maka saya akan memberikan hadiah
untuk kalian”. Akan tetapi kalau ‘iwad itu diperoleh dari uang
pendaftaran seluruh peserta lomba, maka hukum perlombaan itu tidak
diperbolehkan (haram).
الاقناع في حل ألفاظ أبي شجاع - (ج 2 /
ص 448)
ويجوز شرط العوض من غير المتسابقين
وسواء أكان من الإمام أم من غيره كأن يقول الإمام من سبق منكما فله في بيت المال كذا
أوله علي كذا ويكون ما يخرجه من بيت المال من سهم المصالح كما قاله البلقيني أو
الأجنبي من سبق منكما فله علي كذا لأنه بذل مال في طاعة ولا شك أن حكم إخراج أحد
المتناضلين العوض وإخراجهما معا حكم المسابقة فيما سبق من غير فرق وصورة إخراج
أحدهما أن يقول أحدهما ترمي كذا فإذا أصبت أنت منها كذا فلك علي كذا وأن أصبتها
أنا فلا شيء لأحدنا على صاحبه وصورة إخراجهما معا أن يشترط كل واحد على صاحبه عوضا
إن أصاب ولا يجوز هذا إلا بمحلل بينهما كما سبق خاتمة لو تراهن رجلان عل اختبار
قوتهما بصعود جبل أو إقلال صخرة أو أكل كذا فهو من أكل أموال الناس بالباطل وكله
حرام.
مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ
المنهاج - (ج 18 / ص 253)
( ويجوز شرط المال ) أي إخراجه في المسابقة ( من غيرهما ) أي
المتسابقين ( بأن يقول الإمام أو أحد الرعية ) وأخصر وأشمل من ذلك أو أجنبي ( من
سبق منكما فله في بيت المال ) كذا هذا مقول الإمام ، ويكون ما يخرجه من بيت المال
من سهم المصالح كما قاله البلقيني ( أو ) من سبق منكما ( فله علي كذا ) هذا مقول
أحد الرعية فهو من باب اللف والنشر المرتب ، وإنما صح هذا الشرط لما فيه من
التحريض على تعلم الفروسية وإعداد أسباب القتال ؛ ولأنه بذل مال في طاعة .
4.
Bolehkah
menyusukan seorang anak tanpa izin sohibu al-laban?
Hukum
menyusui seorang anak tanpa adanya izin suami adalah tidak boleh. Karena
seluruh waktunya istri dihabiskan untuk hak suami.
أسنى المطالب - (ج 12 / ص 121)
( فصل لو أجرت ) حرة ( نفسها ) إجارة عين لإرضاع أو غيره ( بغير
إذن الزوج لم يجز ) لأن أوقاتها مستغرقة لحقه نعم لو كان غائبا غيبة بعيدة أو طفلا
فأجرت نفسها لعمل بمنزلها بحيث يظن فراغها منه قبل تمكنه من التمتع بها فتتجه
الصحة قاله الأذرعي أما بإذنه فيجوز ( وإن تزوجها مستأجرة لم يمنعها الإيفاء ) لما
التزمته كما لو أجرت نفسها بإذنه ( وليس لمستأجر المرضعة ) أو غيرها المفهوم
بالأولى ( منع الزوج وطأها بعد فراغها ) أي في أوقاته ، ولا نظر إلى توقع حبلها
الذي ينقطع به اللبن أو يقل لأن حبلها متوهم فلا يمنع به الوطء المستحق .
5.
Bolehkah
memanfaatkan marhun tanpa izin rohin?
Tidak boleh bagi murtahin memanfaatkan marhun tanpa
adanya izin rohin.
روضة الطالبين وعمدة المفتين - (ج 2 /
ص 20)
فصل ليس للمرتهن في المرهون إلا حق
الإستيثاق وهو
ممنوع من جميع التصرفات القولية والفعلية ومن الإنتفاع. فلو وطىء المرهونة بغير
إذن الراهن فكوطء غيرها فإن ظنها زوجته أو أمته فلا حد وعليه المهر والولد نسيب حر
وعليه قيمته للراهن وإن لم يظن ذلك ولم يدع جهلا فهو زان يلزمه الحد كما لو وطء
المستأجر المستأجرة ويجب المهر إن كانت مكرهة وإن طاوعته فلا على الأصح.
Jumat, 31 Mei 2013
Senin, 15 April 2013
Fitrah
Secara
fitri, manusia dikaruniai Allah Swt gharizah an-nau’. Diantara
perwujudannya berupa kecintaan pada ibu, bapak, anak dan istri. Dengan naluri
itu pula, secara fitri manusia akan terdorong untuk melakukan mencari pasangan
dan melahirkan keturunan. Itu pula yang terjadi pada diri Nabiyullah Ibrahim
as. Sebagai manusia, beliau juga menginginkan kehadiran seorang anak. Meski
usianya kian senja, Nabi Ibrahim as terus berdoa memohon diberikan anak yang
shalih. Allah Swt pun berkenan mengabulkan doa beliau.
رَبِّ هَبْ لِي
مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلاَمٍ حَلِيمٍ (101)
‘Ya Rabb,
anugrahkanlah kepadaku [seorang anak] yang termasuk orang shaleh’. Maka Kami
beri kabar dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (TQS ash-Shaffat
[37]: 100-101)
Bagi Ibrahim as, Ismail adalah buah hati, harapan dan
kecintaannya, yang telah sangat lama didambakan. Ismail bak satu-satunya pohon
hijau yang tumbuh di kebun gersang milik seorang petani tua. Ismail
mendatangkan kebahagiaan dalam hidup Ibrahim. Ismail pun merasakan penuhnya
kasih sayang dan cinta ayahnya. Akan tetapi, di tengah rasa bahagia itu,
turunlah perintah Allah kepada Ibrahim untuk menyembelih putera kesayangannya
itu. Allah Swt berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ
مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ
فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى
“Maka tatkala
anak itu telah sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim,
Ibrahim berkata: hai anakku, sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu” (TQS ash-Shaffat
[37]: 102)
Menghadapi
perintah itu, Ibrahim menghadapi dua pilihan: mengikuti perasaan hatinya dengan
”menyelamatkan” Ismail atau menaati perintah Allah dengan ”mengorbankan” putra
kesayangannya. Buat Ibrahim, di hadapannya terbentang dua pilihan,
mengedepankan kecintaan yang tinggi (al-mahabbatul ulya), yakni
kecintaan kepada Allah atau lebih mengutamakan kecintaan yang rendah (al-mahabbatul
adna), yakni kecintaan kepada anak, harta, dan dunia. Tetap menyadari anak
yang dicintainya itu sebagai karunia Allah atau malah menjadikannya sebagai أَنْدَداً , pesaing–pesaing Allah yang dicintai sama
atau bahkan melebihi kecintaan kepada Allah.
Sekarang,
bayangkan ada sesuatu yang kita cintai, yang deminya kita rela mengorbankan apa
saja. Itulah “Ismail”-mu. “Ismail”-mu adalah setiap sesuatu yang
dapat melemahkan imanmu dan dapat menghalangi dirimu menuju taat kepada Allah.
Setiap sesuatu yang dapat membuat dirimu tidak mendengarkan perintah Allah dan
menyatakan kebenaran. “Ismail”-mu adalah setiap sesuatu menghalangimu
untuk melaksanakan kewajiban-kewajibanmu. Setiap sesuatu yang menyebabkan
engkau mengajukan alasan-alasan untuk menghindar dari perintah Allah SWT.
Di
dalam hidup ini kita harus mengidentifikasi dan menemukan apa atau siapakah “Ismail”
kita itu. Mungkin sekali “Ismail”-mu adalah seorang manusia; bisa anak,
istri, suami, orang tua atau siapa saja. Bisa pula harta benda, pangkat,
jabatan atau kedudukan. Bisa juga “Ismail”-mu berupa ideologi dan
pandangan hidup sekuler, seperti kapitalisme dan sosialisme atau komunisme, dan
ideologi lain yang tidak bersumber dari nilai-nilai tauhid.
“Ismail”-nya
Ibrahim as adalah Ismail as, anaknya sendiri, buah hatinya. Dan saat Ibrahim
dihadapkan pilihan sulit itu, setan dengan cepat memanfaatkan kesempatan. Dalam
rupa seorang lelaki tua –seperti riwayat Ibn Katsir dalam Tafsirnya dari Abu
Hurairah ra- setan berusaha menggoda Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail agar
mengabaikan perintah Allah itu. Ibrahim yang tahu bahwa lelaki tua itu adalah
setan, segera mengusirnya.
Ketegasan
Ibrahim mengusir setan yang terus menggoda itulah spirit yang semestinya
diresapi oleh para jamaah haji saat melempar jumrah di Mina yang melambangkan
kebencian dan perlawanan terhadap pengaruh setan. Di Mina jutaan jamaah haji
telah menegaskan pendirian: menolak dominasi setan.
Sayangnya
perlawanan terhadap setan itu seolah hanya terjadi di Mina saja. Buktinya
adalah fakta di Indonesia, negara yang paling banyak jumlah jamaah hajinya,
hingga kini tetap tegak ideologi dan sistem sekuler kapitalisme, paling banyak
korupsi dan bentuk kejahatan lain, yang itu sebagiannya dilakukan oleh mereka
yang sudah pernah berhaji. Sepulang dari haji bukan hanya tidak meneruskan
perlawanan terhadap setan, tapi telah menjadi kawan atau malah hamba setan.
Perintah
amat berat itu pun disambut dengan Ismail as dengan penuh kesabaran. Dia pun
mengukuhkan keteguhan jiwa ayahandanya dengan mengatakan:
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ
سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Wahai ayahanda,
lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya’a Allah engkau akan
mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (TQS ash-Shaffat
[37]: 102)
Dan tepat ketika
pisau tajam itu menyentuh kulit leher Ismail, Allah dengan kekuasaan-Nya
menggantinya dengan seekor domba.
فلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ
(103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا
إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاَءُ
الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
”Tatkala
keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya,
(nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggil dia, hai Ibrahim sesungguhnya
engkau telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi
balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar
suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang
besar” (TQS
ash- Shaffat [37]: 103 – 107)
Inilah
teladan yang diberikan oleh Ibrahim yang membawa semangat tauhid. Inilah
teladan seorang anak manusia yang menyadari posisinya sebagai makhluq di
hadapan Sang Khaliq, sebagai hamba dihadapan al-Ma’bûd, Allah SWT.
Inilah teladan dari manusia yang dengan semangat tauhid berhasil merealisasi
kecintaan yang tinggi (al-mahabbatul ulya) yaitu kecintaan kepada
Allah, dan saat yang sama menghindarkan diri dari kecintaan yang rendah (al-mahabbatul
adna) terhadap setiap sesuatu yang bisa menghalanginya untuk taat kepada
Allah SWT. Teladan seorang manusia yang berhasil membuktikan keteguhan dalam
menjalankan perintah Allah dan ketegasan menepis segala bujuk rayu setan yang
terkutuk.
Semangat
tauhid yang telah ditunjukkan kepada kita oleh Nabiyullah Ibrahim as itu,
sangatlah relevan dan amat kita perlukan dalam menjalani kehidupan yang penuh
tantangan saat ini. Kehidupan modern yang serba bendawi, amat mudah membawa
kita terjerumus kepada pragmatisme sekuler yang menjadikan kenikmatan jasmani
dan semua yang serba material menjadi fokus dari capaian hidup tanpa lagi
mengindahkan tolok ukur halal dan haram.
Semangat
tauhid itu sangat kita perlukan supaya kita berhasil mewujudkan kecintaan
hakiki yang tinggi yakni kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya yang mewujud
dalam sikap tunduk, patuh dan terikat kepada ketentuan syariah-Nya. Ketundukan,
kepatuhan dan keterikatan kita kepada syariah Allah itu dipastikan akan membawa
berkah bagi semua, berbuah cinta Allah kepada kita dan ampunan dari-Nya atas
dosa kita. Allah berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ
فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ
غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah,
jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai
dan mengampuni dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (TQS Ali-Imran
[3]: 31).
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
















