Minggu, 20 Maret 2011

Revolusi Mesir


Revolusi Mesir Jadi Pembelajaran
M. Zamroni
JAKARTA (Suara Karya) Indonesia bisa bernasib sama seperti Mesir dan Tunisia karena tiga faktor utama penyebab kemarahan rakyat Mesir dan Tunisia, yakni maraknya praktik korupsi, demokrasi yang kurang matang, dan terjadi krisis pangan, juga terdapat di Indonesia.
Peringatan itu disampaikan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, dan pengamat internasional dari Universitas Parahyangan Bandung Dr Andreas Hugo Pareira secara terpisah di Jakarta, Senin (20/2).
Menurut Jusuf Kalla, aksi perlawanan rakyat terhadap pemerintah terjadi karena negeri-negeri itu mengalami "perlawanan" dari dalam, yakni kebebas-an/demokrasi yang kurang, masalah korupsi, dan krisis ekonomi terutama melonjaknya harga pangan dan kebutuhan pokok.
Di Tunisia dan Mesir, kata Jusuf Kalla, rakyatnya tidak miskin. Tapi, kebebasan berdemokrasi sangat minim, sertapraktik korupsi banyak terjadi.
"Di Indonesia, kebebasan tidak minim, malah kebablasan. Kita juga punya potensi masalah karena adanya gejolak pangan, meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran serta upa-ya memberantas korupsi yang tidak dituntaskan. Mesir dan Tunisia itu bergejolak karena mengalami krisis pangan," ujarnya.
Din Syamsuddin juga menilai, latar belakang dari aksi demonstrasi besar-besaran di
Mesir karena banyaknya praktik ketidakadilan di masyarakat. Apalagi, pemerintahan di Mesif terkenal otoriter dan diktator.
Menurut dia, kejadian itu dapat menjadi pelajaran bagi para pemimpin di seluruh dunia karena rakyat akan menumbangkan pemerintah yang otoriter.
"Kejadian di Mesir dan Tunisia ini menjadi . pelajaran bagi rezim yang berkuasa agar tidak ber-jnain-main dengan kekuasaan," katanya seraya berharap kejadian tersebut tidak menimpa Indonesia.
Akbar Tandjung berpendapat, revolusi seperti Tunisia itu merupakan fenomena di Arab yang kini sedang ditiru Mesir.
Adanya fenomena revolusi di Arab, karena kondisi objektif masyarakat di sana memang sangat tertutup dan tidak ada kebebasan. "Saat ini ada momentum Tunisia yang lebih dulu. Mereka ingin melakukan hal yang sama. Apalagi ada tokoh oposisi Mesir bernama El Baradei," ujarnya.
Menurut Akbar, di Mesir yang berkuasa adalah militer. Jika suatu saat militer sudah tidak mendukung lagi pemenn tahan Hosni Mubarak, maka tentara bisa menarik dukungannya. Dalam kondisi seperti ini pulalah. Hosni Mubarak sebaiknya pergi ke luar negeri
Terus tentara bilang, Anda (Hosni Mubarak) sudah tidak punya legitimasi lagi. Sebaiknya Anda mundur dan pergi ke luar negeri," katanya.
Andreas Hugo Pareira mengatakan, proses reformasi yang amburadul, kepemimpinan nasional yang makin kehilangan kepercayaan, dan tingginya angka kemiskinan bukan tidak mungkin akan kembali ke Indonesia.
Ia melihat kritik tokoh-tokoh lintas agama yang menyebut pemerintah bohong pada beberapa program kerja merupakan ekspresi ketidakpuasan masyarakat. "Menurut hemat saya, ini akan mempercepat proses bergulirnya gerakan perlawanan ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah," kata Andreas.
Ia menjelaskan, pergolakan politik di negara-negara Timur Tengah dalam beberapa minggu teiakhir ini ibarat gelombang pergolakan yang bergerak dengan daya dobrak tinggi dari satu negara ke negara yang lain.
Menurut dia, gejolak di. Timur Tengah ibaratnya gelombang demokrasi keempat setelah Perang Dunia Kedua dari Eropa Selatan, Amerika Latin, Asia Timur-Tenggara sekarang ke Timur Tengah. "Pemicunya adalah kezaliman rezim otoritarian, kemiskinan, dan ketidakadilan," kata Andreas.
Anis Matta juga melihat, pergerakan revolusi di Meat- sebagai potret sejarah reformasi Indonesia tahun 1998. Pergerakan di Mesir, menurut Anis,sulit terjadi di Indonesia.
"Yang dihadapi di Mesir saat ini sama dengan yang kita hadapi pada era reformasi di tahun 1998. Tapi, kejadian di Mesir ini konteksnya berbeda dan sulit terjadi lagi di Indonesia. Ini karena kemiskinan yang sudah merajalela," ujar Anis.
Dia menuturkan, kepercayaan masyarakat terhadap Presiden Susilo Bambang Yudho yono (SBY|. utamanya pada l*-iiegakan hukum, memang sangat rendah. Meski demikian, hal tersebut, menurut Anis, belum sampai memicu kemungkinan revolusi besar-besaran di Indonesia
"Ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah, terutama politisasi hukum, menjadi masalah. Namun, polanya tidak sama, kata Anis.
Kepercayaan terhadap pemerintah, menurut Anis, juga makin rendah karena kenaikan inflasi yang luar biasa tinggi. Kenaikan harga-harga sembako juga dinilai Anis memperburuk citra pemerintah di mata rakyat. "Namun, rasanya belum ada kemarahan publik untuk ke arah sana," katanya.
Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mengatakan, pergolakan politik di Mesir tidak akan "merembet" ke lndo-nesia.
"Saya tidak percaya pergolakan di Mesir "merembet" ke sini (Indonesia). Menurut saya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak melakukan kesalahan yang disengaja dan terang-terangan. Kalau (Hosni) Mubarak terang-terangan dan disengaja," kata Mahfud kepada wartawan di Jakarta, Senin (20/2).
Ia menilai, di Indonesia hanya pergolakan politik biasa antara yang tidak suka dan yang suka "Seandainya ada, tidak seperti di Mesir yang melibatkan ribuan orang," katanya
Hal tersebut diungkapkan Mahfud menanggapi pernyataan beberapa kalangan yang mengkhawatirkan revolusi di Tunisa dan gejolak Mesir berpotensi akan "merembet" ke Indonesia
Pemicu munculnya gerakan perlawanan terhadap kekuasaan, kata dia, biasanya akibat adanya krisis pangan, le-mahnya daya beli masyarakat, kemiskinan, ketidakadilan, dan kelicikan pemerintah yang berkuasa
Sementara itu, suara gerakan moral tokoh lintas agama yang mengkritik kebohongan pemerintahan SBY kini nyaris tidak terdengar lagi. Namun, bukan karena melempam, melainkan mereka masih menunggu realisasi janji-janji SBY.
Pascabertemu dengan SBY di Istana, menurut anggota Badan Pengurus Gerakan Tokoh Lintas Agama Romo Benny Soe-setyo, mereka bersikap cooling down terlebih dahulu. Namun, mereka tetap melihat apa yang dilakukan SBY terkait kritikan kebohongan pemerintah itu.
"Kita tidak melempem, sekarang ini kita memberi kesempatan pemerintah membuktikan semua penyelesaian k?.-sus-kasus besar untuk mengembalikan kepercayaan rakyat," ujar Romo Benny.
Ia mengatakan, para agamawan tidak memberikan tenggat waktu kepada pemerintah untuk menyelesaikan semua permasalahan bangsa, karena seruan moral tidak ada batasannya "Pemerintah harus segara berbenah diri untuk fokus mengatasi krisis pangan dan krisis energi. Karena ini hal yang berbahaya, bisa-bisa akan terjadi seperti di Mesir. Ketidakpuasan akan membuat masyarakat bergerak," katanya
Seperti diketahui, tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan kian tergerus. Hal tersebut ditandai dengan munculnya banyak aksi protes yang tak kunjung berhenti dilakukan oleh gerakan ekstra parlementer.
Sebuah pertemuan lintas aktivis dan elemen masyarakat, beberapa waktu lalu, makin mempertegas gelombang ketidakpercayaan terhadap pemerintahan yang dipimpin Presiden SBY.
Yudi Latif dari Gerakan Indonesia Bersih dan Hatta Taliwang yang merupakan aktivis 77-78, yang menjadi inisiator dari pertemuan lintas generasi dan lintas elemen ini, mengatakan bahwa mahasiswa dan pemuda harus mulai aktif dalam mengakomodasi suara rakyat (wanw p/Rufly)
JAKARTA (Suara Karya) Indonesia bisa bernasib sama seperti Mesir dan Tunisia karena tiga faktor utama penyebab kemarahan rakyat Mesir dan Tunisia, yakni maraknya praktik korupsi, demokrasi yang kurang matang, dan terjadi krisis pangan, juga terdapat di Indonesia. Adanya fenomena revolusi di Arab, karena kondisi objektif masyarakat di sana memang sangat tertutup dan tidak ada kebebasan. "Yang dihadapi di Mesir saat ini sama dengan yang kita hadapi pada era reformasi di tahun 1998. Ia menilai, di Indonesia hanya pergolakan politik biasa antara yang tidak suka dan yang suka "Seandainya ada, tidak seperti di Mesir yang melibatkan ribuan orang," katanya Hal tersebut diungkapkan Mahfud menanggapi pernyataan beberapa kalangan yang mengkhawatirkan revolusi di Tunisa dan gejolak Mesir berpotensi akan "merembet" ke Indonesia Pemicu munculnya gerakan perlawanan terhadap kekuasaan, kata dia, biasanya akibat adanya krisis pangan, le-mahnya daya beli masyarakat, kemiskinan, ketidakadilan, dan kelicikan pemerintah yang berkuasa Sementara itu, suara gerakan moral tokoh lintas agama yang mengkritik kebohongan pemerintahan SBY kini nyaris tidak terdengar lagi. Yudi Latif dari Gerakan Indonesia Bersih dan Hatta Taliwang yang merupakan aktivis 77-78, yang menjadi inisiator dari pertemuan lintas generasi dan lintas elemen ini, mengatakan bahwa mahasiswa dan pemuda harus mulai aktif dalam mengakomodasi suara rakyat (wanw p/Azam)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar