Rabu, 23 Maret 2011

FILSAFAT



FILSAFAT PROGRESIFISTIK PENDIDIKAN
Oleh: M. Zamroni

Pendidikan  sebagai disiplin ilmu tentunya memiliki kontruksi filosofis tersendiri sebagai bagian dari cabang-cabang filsafat pada umumnya. Dengan memahami akar filosofis masing-masing paradigma pendidikan itu kita bisa dengan mudah membaca karakter masing-masing. Minimal kita tahu aliran filsafat yang melatarbelakangi suatu paradigma pendidikan.
Setiap Paradigma  pendidikan tidak bisa terlepas dari akar filosofisnya. Paradigma pendidikan manapun tetap tidak bisa lepas dari aliran filsafat yang menjadi induknya sebab pendidkan sebagai ilmu merupakan cabang dari filsafat dalam aplikasinya. Dalam filsafat pendidikan terdapat beberapa aliran yang saling mengkonstruksi masing-masing paradigma pendidikan tersebut. Maksudnya setiap aliran berusaha menampilkan bentuk keberfihakan serta karakter masing-masing yang berbeda.
Berangkat dari aliran-aliran filsafat yang bermacam-macam itu kemudian membentuk paradigma yang berbeda-beda pula. Sederhananya pardigma yang dimaksud disini adalah sebagai salah satu perspektif filosofis dalam membaca persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pendidikan.
Dalam diskursus  filsafat pendidikan kontemporer terdapat jenis aliran dalam filssafat pendidikan. Filsafat pendidikan itu yakni meliputi aliran progresifisme, esensialisme, perenialisme, eksistensialisme, dan rekonstruksialisme, aliran filsafat  tersebut memiliki karakter yang berbeda-beda.
Progresifisme bercirikan atas penolakan segala bentuk otoritarianisme dan abslutisme. Disamping itu progrsfisme juga kepercayaan juga menaruh kepercayaan penh terhadap kuasa manusia dalam menentukan hidupnya. Faktor kebebasan penuh yang dimiliki oleh manusia menjadi ciri khas manusia progresif.
Yang membedakan antara progresifisme dan eensialisme adalah pada orientasi pendidikan masing-masing. Filsafat pendidikan  progresifisme berhaluan masa depan sehingga dengan pendidikan dipandang debagai upaya merekontruksi secara terus menerus pengetahuan bagi manusia menuju kesempurnaan. Progresifisme berhaluan  anti kemapanan sehingga bertentangan dengan esensialisme, sementara aliran esensialisme lebih berorientasi  untuk mempertahankan nilai-nilai yang sudah mapan.

Paradigma-paradigma pendidikan yang berkembang selama ini bisa dikategorikan dalam tiga kelompok  besar, yaitu pardigma pendidikan konservatif, liberal, dan kritis. Kesemuanya itu memiliki memiliki akar filosofis  yang berbeda-beda.
PEMBAHASAN
Aliran progresifisme mengakui dan berusaha mnegembangkan asas progresifisme dalam semua realita, terutama dalam kehidupan adalah tetap survive terhadap semua tantangan hidup manusia, harus praktis dalam melihat segala sesuatu dari segi keagungannya. Progresifisme dinamakan intrumentalis, karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup, kesejahteraan, dan untuk mengembangkan kepribadian manusia. Dinamakan eksperimentalisme, karena aliran tersebut menyadari dan mempraktekkan asas eksperiman yang merupakan untuk menguji kebebnaran suatu teori. Progresifisme dinamakan Environtalisme, karena aliran ini mengangkap lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan kepribadian (Noor Syam, 1987 : 228-229)
Tokoh-tokoh Progresifisme antara lain :
1.    William James ; Dilahirkan New York, tanggal 11 Januari 1842 dan meninggal di Choruroa, New Hemshire tanggal 26 Agustus 1910. Menurut James bahwa otak atau pikiran seperti juga dari eksistensi organic harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Buku karangannya burjuduk “principles Of Psychology yang terbit tahun 1890. William James terkenal sebagai ahli filsafat pragmatisme dan Empirisme radikal.
2.    John Dewey ; lahir di Borlington Vermont, pada tanggal 20 Oktober 1859, dan meninggal di New York tanggal 1 Januari 1951. beliau juga termasuk salah seorang bapak pendiri filsafat pragmatisme. Dewey mengembangkan pragmatisme dalam bentuknya yang orisinil, tapi meskipun demikian, namanya sering pula dihubunganka terutama sekali dengan versi pemikiran yang disebut Intrumenalisme. Adapun ide filsafatnya yang utama, berkisar dengan hubungan problema pendidikan yang konkrit, baik teori maupun praktik. Reputasi internasionalnya terletak dalam sumbangan pikirannya terhadap filsafat pendidikan progresifisme pendidikan.

John Dewey adalah seorang profesor di universitas Chicago dan Columbia (Amerika). Teori Dewey tentang sekolah adalah "Progressivism" yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Maka muncullah "Child Centered Curiculum", dan "Child Centered School". Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas, seperti yang diungkapkan Dewey dalam bukunya "My Pedagogical Creed", bahwa pendidikan adalah proses dari kehidupan dan bukan persiapan masa yang akan datang. Aplikasi ide Dewey, anak-anak banyak berpartisipasi dalam kegiatan fisik, baru peminatan.
3.    Hans Vaihinger ; menurutnya tahu itu hanya mempunayi arti praktis. Kesesuaikan dengan objeknya tidak mungkin dibuktikan; satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia.
4.    Ferdinant Schiller dan Georges Santayana ; kedua orang ini bisa digolongkan pada penganut pragmatisme. Tapi amat sukar untuk memberikan sifat bagi hasil pemikiran mereka, karena amat pengaruh yang bertentangan dengan apa yang di alaminya (Poedjayatna, 1990: 133)
Filsafat Progresifisme sama dengan pragmatisme. Penamaan filsafat progresifisme atau pragmatisme ini merupakan perwujudan dari ide asal wataknya. Filsafat ini juga tidak mengakui kemutlakan hidup, menolak absolutisme dan otoritalisme dalam segala bentuknya, nilai-nilai yang dianut bersifat dinamis dan selalu mengalami perubahan. Dengan demikian filsafat progresifisme menjunjung tinggi hak asasi individu dan menjunjung tinggi akan nilai demokrasi.
Pada aliran progresif kelompok rekonstruksionis dapat dikatakan berbeda dari lainnya karena kelompok ini tidak hanya mengubah apa yang ada pada saat sekarang tetapi juga membentuk apa yang akan dikembangkan. Walau pun tidak begitu jelas tetapi pada pandangan ini sudah ada upaya untuk "shaping the future" dan bukan hanya "adjusting, mending or reconstructing the existing conditions of the life of community".
Progresifisme (The starting point of progressivist ideology is a conception of children’s unfolding nature, their interests and their developmental needs. The centralmetaphor in this school of thought is growth). (Skilbeck1982:7) Perkembangan anak menyerupai bunga yang sedang mekar. Fungsi pendidikan adalah untuk mendukung proses itu, sesuai dengan bakat dan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing anak.
Secara singkat, posisi kurikulum dapat disimpulkan menjadi tiga. Posisi pertama adalah kurikulum adalah "construct" yang dibangun untuk mentransfer apa yang sudah terjadi di masa lalu kepada generasi berikutnya untuk dilestarikan, diteruskan atau dikembangkan. Pengertian kurikulum berdasarkan pandangan filosofis perenialisme dan esensialisme sangat mendukung posisi pertama kurikulum ini. Kedua, adalah kurikulum berposisi sebagai jawaban untuk menyelesaikan berbagai masalah social yang berkenaan dengan pendidikan. Posisi ini dicerminkan oleh pengertian kurikulum yang didasarkan pada pandangan filosofi progresivisme. Posisi ketiga adalah kurikulum untuk membangun kehidupan masa depan dimana kehidupan masa lalu, masa sekarang, dan berbagai rencana pengembangan dan pembangunan bangsa dijadikan dasar untuk mengembangkan kehidupan masa depan.

Perbedaan Konsep Progresifisme Dewey Dengan Konsep Pendidikan Islam.
Perbedaan mendasar antara progressivisme John Dewey dan konsep fitrah dalam Islam adalah titik tolak epistemologis masing-masing. John Dewey berangkat dari filsafat pragmatisme yang diukur dengan standar rasional, sedangkan konsep fitrah dalam Islam berangkat dari doktrin-doktrin wahyu (al-Qur'an dan Hadis). Perbedaan titik tolak inilah yang kemudian berimplikasi pada perbedaan konsepsi masing-masing tentang konsep pendidikan.
Sesuai dengan konsepsi progresivisme John Dewey ada beberapa perbedaan yang dapat disimpulkan. Pertama, Kedudukan pendidikan menurut progresivisme secara umum, lebih berorientasi pada kehidupan duniawi. Berbeda dengan konsep fitrah dalam Islam, kedudukan pendidikan dalam Islam adalah suatu sarana untuk mendalami agama, mengenai Allah, dan mengenai dirinya. Kedua, konsep demokrasi dalam pendidikan lebih dipahami oleh Dewey dengan memberikan materi pendidikan sesuai dengan keinginan anak didik. Hal ini berbeda dengan konsep fitrah dalam Islam yang lebih mengarahkan anak didik pada tujuan-tujuan keagamaan. Tingkat pemahaman dan pengetahuan anak didik tetap menjadi pertimbangan, namun ada arahan yang jelas untuk mengembangkan anak didik sesuai dengan tujuan-tujuan keagamaan.
Ketiga, Konsep fitrah dalam Islam tidak sepakat dengan pandangan Dewey bahwa kebudayaan itu menentukan sifat-sifat manusia. Manusialah yang membentuk kebudayaan. Maka kemajuan dan kemunduran sifat-sifat manusia tidak ditentukan oleh kebudayaan, tetapi ditentukan oleh tingkat konsistensi Manusia terhadap fitrahnya.
Keempat, Konsep fitrah dalam Islam tidak sepakat dengan pandangan Dewey Bahwa kemerdekaan adalah hak mutlak manusia. Kalimat itu masih harus dilanjutkan “kebebasan mutlak ini disertai dengan kemampuan untuk memilih”. Kemerdekaan manusia berada dalam memilih secara berfikir untuk menghormati hukum-hukum yang diwahyukan dan mengetahui perintah-perintah Tuhan. Predistinasi bukan determinasi mekanis akan tetapi pilihan yang bersandar kepada fikiran.
Kelima, Konsep fitrah dalam Islam melihat bahwa pemikiran progressivisme Dewey telah dicemari oleh faham atheisme. Hal ini sebagaimana dukungan Dewey terhadap pandangan yang menyatakan hubungan demokrasi dengan kapitalisme, yang dianggap sebagai dua hal yang bersepupu bila ditinjau dari sifat-sifat manusia, sehingga seumpama yang pertama dibunuh, yang kedua juga turut terbunuh.

Kurikulum Progresivisme
Selain kemajuan atau progres, lingkungan dan pengalaman mendapatkan perhatian yang cukup dari progresivisme. Untuk itu filsafat progresivisme menunjukkan dengan konsep dasarnya sejenis kurikulum yang program pengajarannya dapat mempengaruhi anak belajar secara edukatif baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah, tentunya dibutuhkan sekolah yang baik dan kurikulum yang baik pula.
Pendidikan dilaksanakan di sekolah dengan anggapan bahwa sekolah dipercaya oleh masyarakat untuk membantu perkembangan pribadi anak. Faktor anak merupakan faktor yang cukup urgen, karena sekolah didirikan untuk anak. Karena itu hak pribadi anak perlu diutamakan, bukan diciptakan sekehendak yang mendidiknya. Dengan kata lain anak hendaknya dijadikan sebagai subyek pendidikan bukan sebagai obyek pendidikan.


Untuk memenuhi keutuhan tersebut, maka filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat fleksibel dan terbuka. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya. Sekolah didirikan karena tidak mempunyai orangtua atau masyarakat untuk mendidik anak. Karena itu kurikulum harus dapat mewadahi aspirasi anak, orangtua serta masyarakat. Maka kurikulum yang edukatif dan eksperimental dapat memenuhi tuntutan itu. Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai, yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum.
Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah, melainkan harus terintegrasi dalam unit. Dengan demikian core curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum, metode yang diutamakan yaitu problem solving.
Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit, diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Dengan berlandaskan sekolah sambil berbuat inilah praktek kerja di laboratorium, di bengkel, di kebun (Iapangan) merupakan kegiatan belajar yang dianjurkan dalam rangka terlaksananya learning by doing. Dalam hal ini, filsafat progresivisme ingin membentuk keluaran (out-put) yang dihasilkan dari pendidikan di sekolah yang memiliki keahlian dan kecakapan yang langsung dapat diterapkan di masyarakat luas.

KESIMPULAN
            Dari paparan di atas kalau kita kaitkan antara Filsafat Progresifism dengan Pengembangan kurikulum dan Pendidik maka kita dapat melihat secara kongkrit langkah-langkah filsafat progresifisme sebagai berikut :
1.      Filsafat Progresifisme merupakan landasan pemikiran yang radikal dan rasional, yang mengedapankan kebutuhan saat ini dan kebutuhan yang akan datang sehingga dalam kurikulum di Indonesia khususnya sudah mengacu pada paradikma progresifisme karena sebagaimana KBK dan KTSP saat ini yang mengedepankan kebutuhan anak saat ini dan yang akan datang.
2.      Pengaruh Filsafat Progresifisme juga terdapat secara jelas dalam pembentukan SK dan KD, yang mana SK dan KD berisi tentang hal-hal mendasar yang dibutuhkan siswa saat ini dan diramalkan juga untuk kebutuhan yang akan datang, seperti: Pengembangan materi ICT, Life Skill peserta didik, kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan, kemampuan kehidupan keagamaan. kemampuan sosial, kemampuan belajar, wawasan dan perencanaan karir, kemampuan pemecahan masalah.
3.      Filsafat Progresifisme juga berpengaruh pada system kognitif siswa yang mana saat ini siswa dituntut untuk lebih peka terhadap lingkungan disekitarnya dengan cara aktif dan belajar mandiri dalam berinteraksi dan bersosialisasi.
4.      Tidak hanya siswa akan tetapi saat ini guru juga dituntut progresif, dalam artian guru juga dituntut untuk mampu mengembangkan potensi dirinya dan potensi peserta didik melalui pengembangan KD menjadi indikator-indikator yang potensial dilingkungannya.
5.      Satuan pendidikan juga tidak luput dari asas progresifisme dalam hal penerapan manajemen yang otonom (mandiri). Hal ini terlihat dari visi dan misi yang dikembangkan oleh satuan pendidikan saat ini yang dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat saat ini dan prediksi yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar