Kamis, 23 Desember 2010

Teori Pendidikan

TEORI PENDIDIKAN
M. Zamroni, S.Pd.I

Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan merupakan wilayah praktis dimana berbagai nilai, norma, dan kepentingan bertemu untuk merebut pengaruh. Dalam posisi ini, pendidikan lantas menjadi ladang kompetensi berbagai pandangan, yang tidak jarang saling berseberangan dan berkontradiksi. Praktek pendidikan Islam tidak lepas dari kondisi semacam ini. Berbagai pandangan, nilai, atau teori, yang sering didentifikasi dengan label barat, membanjiri di setiap lapisan pendidikan Islam.
Nilai nilai Islam yang menjadi basis segala praktek pendidikan Islam seringkali dihadapkan dengan realitas berbagai nilai dan teori yang belum tentu sesuai dengan pandangannya.
Ditengah pusaran kompetisi ini, setidaknya ada tiga sikap yang diambil oleh para pemikir dan pelaku pendidikan Islam ketika berhadapan dengan teori teori pendidikan barat, yaitu; pertama, menerima disertai pembenaran; kedua, menolak secara mentah mentah; dan ketiga, kritis. Sikap menerima dan diikuti pembenaran berdasarkan Al-Qur'an dan Al-Hadist, atau menolak secara mentah mentah segala sesuatu yang berbau barat, seringkali menyertai hadirnya sebuah teori pendidikan. Sebagai contoh, dalam sikap pertama, ketika konsep fitrah disamakan begitu saja dengan konsep tabularasa. Semantara itu, dalam sikap yang kedua, mereka selalu memberi cap segala sesuatu yang berasal dari barat sebagai produk kafir dan harus ditolak. Kedua sikap ini mnucul karena ketidak berdayaan secara intelektual menghadapi berbagai gempuran pandangan dan teori pendidikan.
Sementanra itu, sikap kritis muncul sebagai sebuah kesadaran dialog intelektual yang berbasis pada nilai kebenaran Islam. Sikap ini mencoba terbuka terhadap berbagai jenis pemikiran, yang secara obyektif berani mengakui kelebihan yang dimiliki oleh sebuah teori, dan secara logis berani melakukan uji kritis terhadap beberapa pandangan dan teori teori yang ada berdasarkan aktualisasi nilai nilai Islam.
Dalam konteks yang lebih spesifik, pengabsahan konsep konsep pendidikan barat, tanpa adanya upaya untuk mengkritisi asumsi asumsi yang ada di belakangnya, nampak ketika Islam mewacanakan teori teori nativisme, empirisme, dan konvergensi sebagai bagian dari pada pemikiran Islam. Teori pendidikan Islam selalu tidak pernah beranjak meng-iyakan teori teori tersebut dan mendukungnya dengan dalil dalil Al-Qur'an dan Al-Hadist. Pertanyaannya adalah apakah teori perkembangan manusia tersebut sesuai dengan semangat Al-Qur'an dan Al-Hadist?. Bila jawabannya positif dalam hal apa, dan bila negative dalam hal apa pula?. Kalau memang ada teori khas Islam lantas seperti apa?.Serta bagaimana upaya pengembangannya?. Inilah poin poin pertanyaan yang akan mengiringi sepanjang pembahasan skripsi ini.
Pemikiran peneliti disini diberikan sebagai upaya untuk mengambil jalan ketiga, yaitu sebagai sikap kritis terhadap berbagai jenis teori penddidikan barat dalam konteks aktualisasi kebenaran nilai nilai Islam ditengah berbagai gesekan peradaban. Sikap ini diambil sebagai respon terhadap sikap pertama dan kedua yang cendrung ideologis, sehingga menutup dialog dan komunikasi terhadap setiap tradisi dan pemikiran.
Sebagai mana diketahui, sejarah perkembangan teori pendidikan telah mencatat empat teori besar yang berkaitan langsung dengan perkembangan anak didik, yaitu empirisme, nativisme, konvergensi, dan naturalisme. Sekalipun naturalisme pada hakikatnya adalah nativisme. Nativisme yang dikenal dengan teori bakat yang diperoleh dari Arthur schoperhouer menyatakan bahwa setiap anak dilahirkan lengkap dengan membawa bakat masing masing, yang cepat atau lambat akan menjadi kenyataan di kemudian hari. Pendidikan hanya akan berperan membantu anak didik untuk menjadi apa yang akan terjadi sesuai dengan potensi yang dibawanya sejak dalam kandungan.
Sedangkan empirisme yang dikenal dengan teori tabularasa, dipelopori oleh john locke, menyatakan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan putih bersih bagaikan kertas kosong dan selanjutnya terserah lingkungannya kearah mana perkembagan anak tersebut akan di arahkan. Sementara itu, konvergensi yang dikenal dengan teori realisme, yang dipelopori oleh williem sterm, menyatakan bahwa kepribadian anak didik dibentuk dan dikembangkan oleh factor indogen dan eksogen atau factor dasar dan factor ajar.
Disisi lain Islam yang membawa misi sebagai rahmatan lil alamin yang berkembang sejak 14 abad yang lalu telah mengisyaratkan adanya teori pendidikan ini . hal ini antara lain adalah hadist nabi;
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ ثُمَّ يَقُولُا أَبُو هُرَيْرَةَ وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُم
فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ
"Rasulullah SAW bersabda; setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang mendidik menjadi yahudi, nasrani, atau majusi dalam keadaan bagaikan binatang yang dilahirkan dengan sempurna anggota tubuhnya. Apakah kamu suka melihat binatang yang dilahirkan dalam keadaan bunting? Kemudian abu hurairah membacakan ayat; tetaplah atas firman allah itu tidak ada perubahan pada fitrah allah(itulah) agama yang lurus."
Hadist tersebut merupakan landasan pandangan bahwa setiap anak yang lahir kedunia ini telah membawa potensi potensi tertentu yang selanjutnya bergantung pada orang tuanya untuk membentuk dan mengembangkan kepribadian anak tersebut apakah akan berkepribadian muslim ataukah akan berkepribadian, yahudi majusi dan nasrani. Dengan ungkapan lain bahwa untuk membentuk dan mengembangkan kepribadian anak didik sangat dipengaruhi oleh factor indogen dan eksogen. Dalam hal ini anak didik diarahkan pada pembentukan kepribadian tauhid karena ia merupakan fitrah manusia yang dibawa semenjak ia lahir ke dunia ini. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa fitrah merupakan konsep teori pendidikan tersendiri yang diungkap dalam Al-Qur'an dan Al-Hadist.
Telaah teori pendidikan ini sebenarnya sudah muncul dan berkembang beberapa puluh bahkan ratusan tahun silam namun dipandang masih relevan dan aktual untuk dikaji dan dibahas mengingat ia merupakan induk dari semua teori teori pendidikan yang ada. Munculnya teori pendidikan seperti esensialisme, progresivisme, rekontruksionisme, perenialisme merupakan cabang yang tidak bisa lepas dari pada teori induk tersebut.
Lebih aktual dan menarik lagi untuk dikaji manakala teori tersebut dilihat dari kacamata Islam dengan dasarnya yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadist. Sebagaimana telah kita yakini bersama bahwa Islam dengan kedua sumber ajarannya tersebut mampu menjawab segala problematika kehidupan manusia tak terkecuali masalah pendidikan. Karena Al-Qur'an dan Al-Hadist merupakan pedoman dan rujukan yang dapat menelorkan gagasan gagasan, ide ide, serta konsep konsep baru dalam berbagai persoalan ke agamaan, problematika social dan pendidikan tentunya. Allah berfirman;
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُون
"Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan .


Tidak ada komentar:

Posting Komentar